Monday, August 27, 2012

Creating Music; Words Displacement for Mwathirika Performance



Musik sebagai pengganti kata-kata untuk pertunjukan Mwathirika (Papermoon Puppet Theater)

Without dialogue does not mean there is no language at all, in this case the music is placed as a guardian of the story. Mwathirika actually is an idea about the history of losses of Indonesia in 1965's. Many films and readings have resulted from this history, followed by its rumors, version and controversy. Mwathirika try to dig up what many people have heard and feared in a simple, personal and intimate story /// Tanpa dialog bukan berarti tidak ada bahasa yang disampaikan, dalam hal ini musik ditempatkan sebagai penjaga cerita. Mwathirika sebenarnya adalah sebuah gagasan tentang sejarah kehilangan, di Indonesia tahun 1965-an. Banyak film dan bacaan telah dihasilkan dari sejarah ini, diikuti oleh beragam rumor, versi dan kontroversinya. Mwathirika mencoba menggali kembali apa yang telah banyak orang dengar dan takuti dalam bentuk cerita personal yang sederhana dan intim.

The haunting and terrifying history has given the musical idea about vague dreams and distant world. As reality, until now the history is always told in particular doubt, suspicion, and anxiety. Mwathirika story presented in an atmosphere and a situation like those /// Sejarah yang menghantui dan mencekam tersebut telah memberi ide musikal tentang mimpi yang samar dan dunia yang jauh dan gelap. Sebagaimana kenyataannya. sejarah hitam Indonesia tersebut hingga saat ini selalu disampaikan dengan penuh keraguan, kecurigaan, kekwatiran dan kecemasan tertentu. Dalam suasana dan situasi seperti itulah cerita Mwathirika disajikan.  

Mwathirika also means victims in Swahili language and the puppeteer use Japan's kuruma ningyo technique, represent a more universal. Stories like this certainly  also happen in other parts of the world, not just in Indonesia /// Mwathirika juga berarti korban dalam bahasa Swahili, mewakili dunia yang lebih universal, tak bernama dan tak tersebutkan. Cerita seperti ini pasti pernah terjadi di belahan dunia yang lain, tidak hanya di Indonesia

Music from Scandinavia, Eastern Europe and classical circus music are the influences to build the basic atmosphere of the performance. Most of the music resides in a moderate tempo, retained to explode. As floating dream, everything must go smoothly. Pause and transition repeatedly trained in a structured count. Music, lights and puppeteers are synchronized /// Musik dari Scandinavia, Eropa Timur dan musik sirkus klasik adalah rujukan untuk membuat suasana dasar pertunjukan ini. Sebagian besar musik berdiam dalam tempo yang sedang, semua seperti ditahan untuk meledak. Seperti mimpi yang menghayutkan, tidak ada yang patah dalam pertunjukan ini. Jeda dan transisi dilatih dan dirasakan berulang-ulang dalam hitungan yang terstruktur. Musik, lampu dan pemain boneka berada dalam hitungan rasa yang sama.

Besides the ambient and floating element, some traditional toys are used to add the dynamics of the performance. Mwathirika actually a puppet theater full of games, the support of organic sounds from the toy will enrich the performance. Most compositions using found object sound; a variety of wood or metal sounds, such as beverage cans, rod iron pipes, kentongan (percussion from bamboo), bamboo sticks, bicycle spokes, and a few toys like a tik tok, orok orok and erek erek /// Selain element musik yang menghayutkan tersebut, beberapa mainan anak tradisional digunakan untuk menambah dinamika pertunjukan. Mwathirika sebenarnya adalah teater boneka yang penuh permainan, dukungan suara-suara organik dari mainan tersebut akan memperkaya pertunjukan ini. Sebagian besar komposisi menggunakan beragam suara logam dan kayu, seperti kaleng minuman, batang pipa besi, kentongan, batang bambu, jari-jari sepeda, dan beberapa mainan anak seperti tik tok, orok orok dan erek erek.

Tik Tok Kayu

Orok - Orok (Usually to generate Frog's sound)

Erek - Erek 

click to see the images source

The tricky part is how to play music throughout the show. Certain tempo, timing lag and a smooth transition is crucial matters. Concentration is needed. Synchronization is done not by the machine, but by the feeling and the connectivity between performers (lighting, video and puppet player) /// Bagian tersulit adalah bagaimana memainkan musik tersebut di sepanjang pertunjukan. Tempo tertentu, timing jeda dan transisi yang halus adalah hal-hal yang krusial. Konsentrasi sangat dibutuhkan. Sinkronisasi dilakukan tidak dengan mesin, tetapi dengan rasa dan koneksivitas antar pemain (lighting, video and pemain boneka).



No comments:

Post a Comment

Disqus Shortname

Comments system