Representing the third reality (culture / tradition) in Indonesia into the music is actually quite difficult and challenging. Maybe because I'am Indonesian who want to convey the idea of identity. The identity has long been attached to the self. Subjective observation and the tends to pull the exoticism are often comes up here /// Merepresentasikan kenyataan ketiga (budaya/tradisi) di Indonesia ke dalam musik adalah hal yang sebenarnya cukup sulit dan menantang. Mungkin karena saya adalah orang Indonesia yang hendak menyampaikan ide tentang identitas. Identitas yang telah lama melekat pada diri. Pengamatan yang cenderung subyektif dan tarikan besar eksotisme sering kali muncul disini. Jika saya mau merepresentasi begitu saja apa yang ada di Indonesia, tentu itu hal yang mudah dan tidak menantang.
There are two methods in representating the cultures/traditions: first is the work that becomes a conservation effort of culture/tradition, the second is an attempt to upgrade the culture/tradition in order to catch up with technological developments/modernity. The second method is a hybrid reality: an attempt to mix culture/tradition with western culture or current technological developments. Then the diverse genre of this hybrid phenomenon rises; Tarling (stand for guitar and suling), Dangdut Pantura, Dangdut Koplo, Dangdut Remix (Dangdut mixed with some 80's electronic element) and others /// Ada dua metode representasi budaya/tradisi; pertama adalah bahwa karya menjadi semacam konservasi atas budaya/tradisi, yang kedua adalah suatu usaha untuk meng-upgrade budaya/tradisi tersebut seiring dengan perkembangan teknologi (membuat musik remix, elektone dan lain sebagainya). Metode kedua adalah sebuah kenyataan hibrid; sebuah usaha mempertemukan budaya/tradisi yang dimiliki dengan unsur barat atau perkembangan teknologi saat ini. Bermuncullah beragam aliran musik dari fenomena hibrid ini; tarling (gitar dan suling), dangdut pantura, dangdut koplo, dangdut remix dan lain lain.
The Third Body performance takes Dangdut Pantura (Pantura means the northern coast of Java) as the starting point to see the third reality in Indonesia. Dangdut pantura represent the in between situation, to be or not to be, in the middle of it, half traditional and half modern, the hybrid, the reflection of our reality /// Lebih spesifik, pertunjukan Tubuh Ketiga mengambil dangdut pantura (pantai utara Jawa) sebagai kacamata untuk melihat kenyataan ketiga di Indonesia. Dangdut pantura mewakili sebuah kenyataan yang pecah; sebuah proses yang nanggung antara menjadi tradisional atau modern, ia adalah cermin atas kenyataan kita.
Frankly, though the Dangdut Pantura is the part of in Indonesian culture, but I can feel the distant. I am not an observer or a practitioner in this dangdut art. I used to think this is the kind of cheap music, maybe some people still consider it so. I also felt strange and awkward in any musical progression in the music, even i actually have the knowledge that all of it, is just the development of the traditional elements. Maybe I sense dangdut Pantura as something exotic/bizarre. In my music reference, Dangdut Pantura is an unique music and it would be hard to find anything like this anywhere in the world /// Terus terang meskipun dangdut pantura adalah produk indonesia saya tetap merasa berjarak. Saya bukan pemerhati ataupun seorang praktisi dalam kesenian tersebut. Dahulu saya menganggap musik musik hibrid semacam ini adalah sesuatu yang murahan, mungkin sebagian orang Indonesiapun masih mengganggapnya demikian. Posisi saya adalah seperti seorang asing yang hendak memberi label/genre pada koleksi. Saya pun merasa asing dan janggal pada setiap progresi musik didalam musik tersebut, walaupun sudah memiliki pengetahuan bahwa sebenarnya itu adalah pengembangan dari unsur-unsur tradisional. Mungkin saya melihat Dangdut Pantura sebagai sesuatu yang eksotis, dalam referensi saya, selain unik, musik seperti ini akan sulit ditemukan di belahan dunia manapun.



No comments:
Post a Comment